Pusat Situs Live Taruhan Judi Online Terpercaya Indonesia

Pemuda Kiri Mendesak Proklamasi Kemerdekaan

 Berita Dunia, Penghargaan, Uncategorized, Unik

INDO888 Indonesian Online BettingPemuda Kiri Mendesak Proklamasi KemerdekaanProklamasi hanya butuh keberanian Bung Karno dan Bung Hatta saja setelah pemuda-pemuda mendukungnya. Namun, tanpa pergerakan pemuda-pemuda kiri baik yang sosialis maupun yang komunis, Proklamasi tak akan terjadi.

INDO888 Flag 2

Malam hari, 14 Agustus 1945, berita kekalahan Jepang pun sampai ke telinga para pemuda. Radio BBC London pada siang harinya telah mengabarkan soal menyerahnya Jepang kepada pasukan Sekutu di kapal USS Misouri. Kabar itu tetap sampai ke telinga pemuda Indonesia meski tentara Jepang menyita hampir semua radio milik rakyat. Gerakan Antifasis Perlawanan anti Jepang berhasil menyembunyikan sejumlah radio. Kelompok Syahrir, Amir Sjarifoedin, dan lainnya menyembunyikan dengan baik radio-radio tersebut sehingga tetap dapat menerima kabar-kabar dari luar.

Ahmad Aidit mendengar berita itu. Dia bergegas menemui Wikana, kawannya yang bekerja di untuk Kaigun (Angkatan Laut Jepang) di Jakarta dalam wadah Asrama Indonesia Merdeka. Aidit mengusulkan sebuah pertemuan. Wikana setuju. Esoknya, pukul tujuh pagi, 15 Agustus 1945, sejumlah pemuda berkumpul di belakang areal laboratorium Bakteriologi. Hadir antara lain Chaerul Saleh, Djohar Nur, Pardjono, Armansjah, Subadio Sastrotomo , Suroto Kunto, Eri Sudewo, Syarif Thayeb, Wahidin Nasution, Nasrun, Sukarni,Karimoedin, Adam Malik, Darwis. Chaerul Saleh memimpin rapat itu.

Kebanyakan dari mereka adalah dari Asrama Menteng 31. Sebagian dari mereka adalah pengikut Sutan Syahrir, seorang sosisalis yang anti Jepang seperti Subadio Sastrotomo. Ada juga pengagum Tan Malaka, seorang Trotsky yang beda paham dengan Stalin, seperti Adam Malik, Sukarni juga Wikana. Sementara Ahmad Aidit yang belakangan jadi Dipa Nusantara Aidit adalah komunis. Wikana meski bekerja untuk Kaigun, masih memelihara hubungannya dengan Tan Malaka yang sepanjang pendudukan Jepang bersembunyi di Bayah dengan nama samaran Husein. Menurut Harry Poeze, yang banyak menulis Tan Malaka, rumah Sukarni bahkan pernah dikunjungi Tan Malaka menjelang Proklamasi.

Gerakan Pemuda Kiri

Mengancam Golongan Tua

Hasil rapat 15 Agustus itu memutuskan, Suroto Kunto, Subadio, Wikana, dan Aidit untuk bertemu Ir Soekarno alias Bung Karno. Mereka menuntut agar kemerdekaan diumumkan. Aidit mengusulkan Bung Karno sebagai Presiden Indonesia. Malam itu juga, keempat pemuda tadi menemui Bung Karno di kediamannya, Pegangsaan Timur. Malam itu banyak tokoh-tokoh tua berkumpul bersama Bung Karno, yang baru saja pulang dari Saigon.

Sebagai juru bicara pemuda-pemuda itu, Wikana mendesak Bung Karno untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia secepatnya. Jika perlu tanggal 16 Agustus 1945. Bung Karno tak bisa ambil keputusan sendiri. Dia harus bicara pada tokoh-tokoh tua. Tokoh-tokoh tua ini adalah orang-orang koperatif pada Balatentara Jepang. Belakangan mereka disebut Golongan Tua. Lalu Wikana dan kawan-kawan pemudanya disebut Golongan Muda.

Wikana dan kawan-kawan pemudanya mempersilakan para Golongan Tua untuk berunding di dalam rumah. Sementara Wikana menunggu di beranda rumah bersama pemuda lain. Lalu Mohamad Hatta alias Bung Hatta keluar dan mengatakan jika tokoh-tokoh tua para pemimpin itu enggan secepatnya memproklamasikan kemerdekaan, karena menanti penyerahan kekuasaan dari Balatentara Jepang. Pemimpin-pemimpin tua itu tak mau didesak untuk mengumumkan proklamasi.

“Kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap dan sanggup memproklamasikannya, cobalah! Saya pun ingin lihat kesanggupan saudara-saudara…” kata Hatta pada para pemuda itu. Dengan maksud agar mereka tidak salah langkah dan merugikan banyak pihak. Para pemuda tentu masih pada pendirian mereka.

“Jika besok siang belum juga diumumkan, kami, para pemuda akan bertindak dan menunjukan kesanggupan yang saudara kehendaki,” ancam Wikana pada golongan tua tadi. Termasuk kepada Hatta tentunya. Hatta sendiri, sebenarnya sudah diperingati Syahrir suatu sore sepulang Hatta dari Saigon.

Poker Domino Capsa Susun

“Syahrir menjumpai Hatta, menceritakan kepadanya tentang cerita-cerita penyerahan itu, dan mendesaknya supaya membuat Proklamasi Kemerdekaan diluar kerangka Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dengan alasan bahwa sekutu yang menang pasti tidak mau berurusan dengan suatu negara yang disponsori Jepang,” tulis Ben Anderson dalam bukunya Revolusi Pemoeda (1988).

Argumen Syahrir itu agaknya sulit diterima oleh Hatta dan golongan tua lainnya. Golongan Tua itu berpikiran, jika bala tentara Jepang di Indonesia masih kuat. Orang-orang muda yang siap mati di masih sekitar Menteng tentu jadi harapan Syahrir. Sejak sore 14 Agustus 1945, para pemuda itu mulai bekerja demi sebuah proklamasi. Mereka rela melakukan apapun, termasuk “menculik”.

Author: 

Related Posts

Leave a Reply