Pusat Situs Live Taruhan Judi Online Terpercaya Indonesia

Perlakuan Tak Adil Yang Diterima Rio Haryanto

 Berita Dunia, Unik

Indo888News – Pebalap asli Nusantara, Rio Haryanto yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional dan saat ini tengah mengejar mimpinya untuk bisa berlaga dalam level tertinggi balap mobil Formula 1.

Putra pebalap veteran nasional Sinyo Haryanto ini telah memulai karier balapnya di ajang Gokart sejak masih berusia enam tahun. Dengan darah balap yang diturunkan orang tuanya Rio tidak butuh waktu lama untuk naik podium setelah menjadi juara nasional Gokart kelas kadet pada 1999 dan berhasil menyabet penghargaan atlet Gokart junior terbaik pada 2005 dan 2006.

Di ajang balap Formula, prestasi pertamanya berhasil direngkuh saat mengikuti ajang balap Formula Asia 2.0 dan menjadi juara umum kelas Asia saat usianya masih 15 tahun. Setahun berikutnya, pada 2009 Rio berhasil meningkatkan prestasinya setelah keluar menjadi juara umum ajang Formula BMW Pacific 2009.

Pada usia 17 tahun, dia memenuhi ketentuan untuk
mendapatkan “super license” Formula 1 dari Virgin F1 Racing pada test drive Formula 1 di Abu Dhabi 2010. Kemudian, dia membalap di ajang GP2 Series bersama tim EQ8 Caterham Racing, lalu pindah ke Campos Racing.

Prestasi demi prestasi terus diukir pebalap yang memiliki 276,000 pengikut di akun Twitternya. Rio kini telah tiga kali
menjuarai balapan GP2 Series dan untuk musim balap 2016 ini dirinya memasang target bertanding di kejuaraan dunia Formula 1.

Namun, sepanjang karier dan perjuangannya mengharumkan nama bangsa tidak selalu berjalan mulus, Rio pernah beberapa kali mendapatkan perlakuan yang dirasa kurang menyenangkan, sebagaimana berhasil dirangkum dari
Indo888.com dalam ulasan berikut.

1. GP3 Series 2010 (Istanbul, Turki)

Tidak ada yang menyangka akan ada orang Indonesia yang akan menjadi juara dalam ajang ini, termasuk panitia lomba. Tragisnya, sampai-sampai panita lomba tidak mempersiapkan lagu Indonesia Raya untuk diputar.
Bahkan mereka secara memalukan harus membalik bendera putih-merah milik Polandia untuk mengantikan bendera merah-putih Indonesia saat Rio Haryanto ternyata keluar sebagai juara dan harus naik podium kemenangan.

 

2. GP3 Series 2010 (Silverstone, Inggris)

Setelah kejadian tidak menyenangkan di GP3 Istanbul, lagi-lagi Rio harus mengalami kejadian serupa bahkan lebih tidak mengenakkan lagi. Rio yang berhasil naik podium di race pertama dicurigai panitia lomba telah melakukan kecurangan hingga mobil yang dipergunakan Rio harus dibongkar untuk diperiksa.

Sialnya, setelah tidak menemukan pelanggaran pada mesin mobil Rio panitia tidak memasang kembali perangkat dan komponen mobil Rio dengan sempurna hingga menyebabkan kerusakan pada sejumlah komponen. Kerusakan ini menyebabkan Rio harus tersingkir di race kedua.
Sinyo Haryanto, ayah Rio sempat memprotes aksi panitia ini, namun protesnya tersebut tidak membuat panitia bergeming.

3. GP2 Series 2015 (Monza, Italia)

Rio kembali mendapatkan peristiwa merugikan setelah mendapat hukuman penalti karena dianggap mengambil keuntungan dengan memotong jalan.

Padahal hal tersebut dilakukan Rio untuk menghindari tabrakan dengan melambatkan laju mobilnya agar tidak dianggap mengambil keuntungan.

Hukuman ini terlihat seperti sebuah diskriminasi karena sejumlah pebalap lain yang jelas-jelas memotong jalan dan tidak mengurangi kecepatan mobilnya justru tidak mendapat penalti.

4. GP2 Series 2015 (Sochi, Rusia)

Pada serie balap ini Rio berhasil menyalip dan berada di posisi pertama sebelum sinyal safety car menyala (jika terjadi kecelakaan, safety car diturunkan dan peserta tidak boleh salip menyalip) namun panitia menyatakan kemenangan Rio tidak sah dan harus turun ke posisi kedua.

Hal ini sempat mengejutkan sejumlah pihak, bahkan komentator siaran GP2 di TV Karun Chandhok pun mengatakan bahwa Rio sejatinya berhak untuk menjadi juara.

5. Formula 1 2015 (Suzuka, Jepang)

Menjadi orang yang diremehkan bukanlah pengalaman pertama yang dialami Rio, menjelang menapaki peluangnya naik ke Formula 1 Rio kembali diremehkan.
Salah satu komentator siaran F1 di TV internasional menjadikan usaha Rio untuk masuk ke dalam persaingan kompetisi balap paling bergensi di dunia ini sebagai bahan tertawaan dan lelucon.
Sang komentator mempermainkan nama Rio dengan sebutan “Rio de Janeiro,” “Harry Auntie,” dan “Harry’s Auntie.”

Author: 

Related Posts

Leave a Reply